Sejarah Gampong Kuala dimulai dengan pemukiman masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut dan perikanan. Masyarakat Kuala banyak yang bekerja sebagai nelayan, mengingat posisi geografis gampong yang berada dekat dengan laut. Selain itu, keberadaan gampong ini juga dipengaruhi oleh perdagangan yang berkembang di Selat Malaka, yang merupakan salah satu jalur perdagangan internasional yang ramai sejak abad-abad awal Masehi. Gampong Kuala juga memiliki hubungan erat dengan perkembangan Lhokseumawe sebagai pusat administrasi dan ekonomi di wilayah Aceh. Dengan perkembangan zaman, Gampong Kuala berkembang pesat menjadi bagian penting dari Kota Lhokseumawe, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun budaya. Peninggalan sejarah dan tradisi masyarakat pesisir, seperti adat istiadat yang berkaitan dengan laut dan perikanan, masih dapat dijumpai hingga kini.